Minggu, 25 Maret 2018

Yang Bikin Kangen di Tahun 90’an



Mungkin banyak yang bertanya apa sih generasi 90’an itu? kenapa belakangan ini banyak sekali yang menggaungkan hal-hal berbau generasi 90’an ini. Generasi 90’an, generasi milenial dan generasi Y adalah para manusia yang lahir di tahun 1980-1995 mereka yang hidup di tahun1990an yang merasakan kehidupan di tahun tersebut. Jadi generasi milenial ini adalah orang-orang yang kecil atau remaja di tahun sekitar 90an di mana mereka belum mengenal gadget secanggih sekarang.


Mereka yang hidup dan mengalami masa kecil di tahun 90an menurut penelitian adalah generasi yang paling bahagia. Karena mereka sangat menikmati masa kanak-kanak mereka. Ada banyak hal dan kenangan yang tidak akan pernah bisa di lupakan oleh generasi millenial, di mana tahun 90an adalah masa peralihan ke jaman teknologi yang lebih maju di tahun 2000an atau milenium.

Mereka yang merasakan masa kanak-kanak di tahun 90’an, berarti sekarang sudah besar bahkan ada yang sudah berkeluarga dan melahirkan generasi Z. Waktu kalian  kecil, di tahun 90’an hal-hal apa saja yang kalian ingat? Saya yakin kalian tidak akan pernah lupa masa-masa di tahun 90’an. Di mana yang namanya bermain itu ya memang benar bermain.  Main di luar bersama teman-teman. Main petak umpet, kasti, kelereng dan sebagainya.

                                                                     kaskus.com

Ketika fiilm kartun itu masih banyak di TV. Anak-anak masih mendengarkan lagu-lagu anak bukan lagu cinta-cinta yang sering mengangkat tema, selingkuh, patah hati atau pun pernikahan. Di mana kita bisa sering bermain di luar dengan teman-teman.

Generasi 90an mengklaim diri mereka adalah generasi yang paling bahagia dari generasi yang pernah ada. Sebagai seorang yang pernah merasakan hidup di tahun 90an saya pribadi setuju dengan pernyataan itu. Walaupun banyak juga loh yang tidak setuju dengan itu. Seperti waktu itu ada selebgram yang nyinyirin generasi 90an yang menurutnya generasi 90an itu adalah generasi yang iri dan kalah dengan generasi zaman now. 

Kali ini saya ingin mengajak teman-teman untuk mengenang masa-masa di mana tahun 90an itu adalah tahun yang emas. Ada banyak kenangan yang kita alami yang unforgetable banget di tahun 90an, dari yang banyak itu saya ingin menyimpulkan beberapa kenangan yang ada di tahun 90an.



1. Kangen Marathon Kartun di Hari Minggu

                                                               www.memekocak.my.id


Anak 90an pasti tahu dan pernah nonton kartun di Teve pada hari minggu. Di mulai dari jam lima sampai siang. Urutan yang saya ingat adalah dari jam lima shubuh itu ada Club Disney, Chibu Maruko Chan, Kobo Chan, Doraemon, P-Man, Satria Baja Hitam, Crayon Shinchan, Detective Conan,  Digimon Adventure, Dragon Ball, One Piece, Power rangers dll. Atau kalo di Senin-Jumat ada Sailormoon, Saint Seiya, Captain Tsubasa, Hatchi dan banyak lagi. Sumpah, jadi kangen nih.

2. Kangen Sinetron Jaman Dulu

                                                                         trivia.id


Kalian masih ingat Keluarga Cemara yang tayang sore di RCTI? Kalo ingat dan pernah nonton berarti seharusnya kalian sudah bekeluarga hehe. Kera Sakti yang setiap malam tayang yang bisa jadi alasan saya bolos mengaji. Di tahun 90an itu sinetron tidak tayang setiap hari kayak sekarang biasanya tayang seminggu sekali durasinya juga tidak lama-lama. 30 menit-1 jam.

Kayak sinetron Bidadari yang jadi tontonan wajib di hari minggu malam senin. Apalagi bisa lihat Marshanda, senang banget dah rasanya hehe sebenarnya masih banyak sinetron legendaris seperti Tersanjung yang nggak kelar-kelar, Tersayang (Dulu pernah punya topinya nih hehe), Wah Cantiknya (Itu loh Si Cecep aka Anjasmara dan Tamara Blezinsky) dan masih banyak lagi sinetron-sinetron bagus pada jaman itu.

3. Mainan Anak-anak 90an yang Hits

Nama satu mainan yang ada di otak saya kalau di tanya mainan yang paling oke sampai sekarang adalah Tazos. Waktu itu lagi boomingnya kartun Pokemon (ada juga yang versi Looney Toons) yang tayang di SCTV jaman SD punya banyak Tazos yang di dapat dari snacks Chiki Balls, Chitato, Chitos sama Jet-z (Snack Favo saya waktu kecil, yang rasa paprika) untuk bisa beli snacks ini harus bela-belain sisain uang jajan. 

Selain Tazos ada Tamiya, dulu sempat penyuka Tamiya bahkan sampai di modif segala, ikutan balapan bahkan sampai pernah nyebur ke got, untungnya nggak rusak, Cuma bau aja sih hehe. Tamagochi juga sempat punya, karena dulu nggak bisa ngurusnya akhirnya sakit, mati dan jadi telur lagi. “Sumpah, nggak ngerti gua harus gimana lagi maen Tamagochi.” Ada juga adalah nintendo, sega yang dulu biasanya main di rumah teman. Ada PS aka Play Station mainan canggih yang hits banget di akhir tahun 90an. 

Kalau sudah di rental PS bisa sampai seharian, pulang Cuma buat makan doang, sampai sendal hilang. Winning Eleven, Harvest Moon, Smack Down, CTR dan banyak lagi “Pokoknya main PS itu bisa bikin gua lupa waktu hehe”

Oh ya, jangan pernah melupakan game legend ini, yup, Jimbot atau Brick Game yang bisa ngomong, “Bego lu.. atau Boleh juga lu..” dan yang terakhir adalah Ding-dong yang tidak boleh dilewatkan. Ini dia game yang bisa bikin anak sekolah pada bolos.

4. Permainan Tradisional Anak-anak 90an 
                                                           www.memekocak.my.id
Jika kids jaman now lebih senang bermain di dalam rumah dengan gadgetnya. Beda hal dengan anak-anak yang hidup di tahun 90an. Mereka lebih sering bermain di luar rumah, bahkan sampai di samperin Ibunya sambil bawa sapu lidi kalo sudah mau masuk maghrib saking asyiknya main bareng teman-teman. 

Ada banyak permainan yang tersaji di jaman 90an. Pasti generasi 90an masih ingat, kan. Ada petak umpat, Petak Benteng, Kelereng, Gambaran, Karet (kayaknya waktu itu cowok juga pada suka main karet, jadi yang megangin hehe) terlalu banyak kalau harus disebutkan satu-satu ya. Kalo saya pribadi lebih suka main bola gebok (orang Bekasi biasa nyebutnya begitu) sambil hujan-hujanan, beuh kalo kena badan bisa nyeplak, karena bolanya habis jatuh dari got, sakitnya dapat, senangnya dapat, baunya juga dapat. hehe

5. Kangen Jajanan 90an 


Waktu jaman SD pasti kalian pernah makan lidi-lidian atau makaroni yang pedas dan kayak akan micin, hehe walaupun jaman sekarang juga masih ada dan kemasannya pun beragam dan kekinian. Atau beli martabak telor yang wajannya kecil-kecil dan kita masak sendiri, ya ampun, sekarang masih ada nggak ya. Kalo jajanan warung yang menurut saya fenomenal dan tidak tahu keberadaanya sekarang itu adalah Anak Mas. Ada dua rasa,  rasa Ayam yang asin dan Keju yang asin tapi ada manis-manisnya. 

Jajanan warung juga ada banyak banget sebenarnya, Anak Mommy (sejenis Anak Mas), Choki-choki (sekarang juga masih ada), Kacang Ginja, ada yang masih ingat, nggak? Sejenis kacang sukro tapi warna tepungnya kuning dan asin. Ada juga coklat ayam jago, Chiki Chuba dll. Nggak ada habisnya pokoknya dah kalo ngomongin jajanan jaman dulu. Selain enak juga murah. Pernah merasakan juga beli permen sugus cepek dapatnya empat biji.

6. Lagu Anak-anak 90an itu Buanyaak yang Enak-enak


Masih ingat Bondan Prakoso Si Lumba-Lumba, Enno Lerian yang lagunya Dubi Dubi Damdam atau Nyamuk Nakal, Melisa dengan Abang Tukang Bakso, Maisy Ci Luk Ba, Chiquita Meidy,  Trio Kwek-Kwek, Saskia & Geofany, Agens Monica sampee Sherina masih banyak lagi lagu-lagu anak yang hits di tahun 90an. Jaman dulu acara di Teve itu seimbang antara acara dewasa, remaja, anak-anak dan semua umur. Acara musik anak-anak juga banyak, kalo kalian masih ingat, dulu itu ada acara anak-anak yang dibawakan oleh artis cilik dari Ideal Record (Label musik), yup, Dunia Anak.

Ada juga Ci Luk Ba yang di bawain sama Maisy. Tralala-trilili juga jadi teman kamu sehabis pulang sekolah yang dibawain sama Agnez Mo dan Indra Bekti. Kring-kring O La La dan Bando ya Ampun. Sebenarnya ada banyak acara anak di tahun 90an tapi yang baru saya ingat itu, dulu juga ada acara lagu anak yang dibawain Dhea Ananda di TPI tapi lupa namanya apa, atau di TVRI setiap pagi plus ada acara dongengnya juga, tapi lupa namanya apa kalo nggak salah yang bawain Cantika.
***
Kalau ngomongin hal-hal yang berbau 90an itu memang nggak pernah bakal ada habisnya. Karean 90an itu adalah era transisi dari era tradisional ke era millenium di mana teknologi mulai bermunculan. Untuk kali ini saya cukupkan dulu ya mengenang masa-masa 90an, ingat umur. Hehe






Minggu, 18 Februari 2018

Fiksi Mini





Kartu Busway

Seorang Bapak tua seperti sedang kebingungan berdiri di depan pintu masuk halte busway.
"Mau masuk, Pak?" Tanyaku ramah. Ah, aku mendadak teringat Bapak di rumah.

"Iya, Mba. Tapi Bapak ndak punya kartu."
Ternyata Bapak ini baru pertama kali naik busway dan tidak tahu jika sekarang untuk naik busway harus menggunakan kartu.

Aku pinjamkaan kartuku dan Bapak itu pun masuk sambil memberikan banyak ucapan terima kasih kepadaku.
***

"Sekarang naek busway ntu kudu pake kartu ya, Neng?" Tanya Bapakku sambil menyeruput kopi hitamnya.

"Iya. Udah lama. Emang napa, Pak?"
Semenjak bekerja dan ngekost di Jakarta, tiap dua minggu sekali baru aku bisa pulang ke rumah di Cikarang.

"Minggu maren, Bapak sama Bang Roji ke Kota Tua. Mau nyoba naik busway nggak bisa. Katanya harus pake kartu, kita bedua mah nggak gablek begituan. Untung ada Mba-Mba seumuran lu, Neng. Minjemin kartu. Jadi bisa masuk dah kita."



Minggu Siang
Minggu siang, aku melewati jembatan penyeberangan.
Seorang bapak yang terduduk sambil menyapu jembatan penyeberangan, menengadahkan tangan kanannya ke arahku. Tangan kirinya memegang sapu bergagang pendek.

"Maaf, Pak." Aku hanya tersenyum sambil mengisyatkan dengan tangan pertanda 'tidak.'
***

Tengah malam, aku melewati jembatan penyeberangan itu kembali.
Di sudut jembatan penyeberangan, aku melihat bapak itu lagi. Terduduk sambil menunduk.

Aku melewatinya, dia terlihat sibuk. Pandanganku tertuju pada sesuatu yang ada di hadapannya.
Uang dengan berbagai nominal terhampar banyak sekali. Terlihat pecahan seribu rupiah sampai sepuluh ribu rupiah.

Aku berlalu, tetapi Bapak itu masih sibuk menghitung, tidak peduli denganku dan angin malam yang mulai menyerang.





Halte


Bus ke Bekasi sudah datang. Halte BNN nampak lengang di minggu siang ini.
Aku menuruni anak tangga, agar mempercepat gerakku, headset yang dari tadi terpasang di telingaku aku lepas dan memasukkannya ke dalam ransel bersama handphone yang ku pegang.

Di depan anak tangga terakhir, berdiri seorang bapak. Tersenyum ke arahku. Aku pun membalasnya dan berlalu.

Bus masih menunggu, aku berhasil naik beberapa detik sebelum meninggalkan halte.
Aku terduduk lega karena berhasil mendapat tempat duduk. Ku pindahkan posisi ransel kepangkuanku.
Ranselku terbuka, headsetku menggantung dan handphoneku raib.

Jumat, 29 Desember 2017

Empat Hari Untuk Selamanya


Part II (Karena bersama, tidak selamanya sama)
Di Part I, saya dan teman-teman salah pesan kamar. Di tengah kondisi yang masih lelah, kami semua mendadak diam. Mencoba tenang sambil mencari jalan keluar.





Daripada kami berdiam di sini, kami memutuskan untuk keluar dan pergi mencari Masjid untuk shalat ashar. Selama di Singapura, google maps itu sangat membantu kami sekali. Untuk PIC pengarah jalan kami adalah Bagus. Melalui handphonenya kami benar-benar terbantu mencari lokasi dan mendapatkan informasi. Sebenarnya handphone kami bisa, tapi yang cuma terisi paket internet hanya Bagus saja.


Perihal kesalahan pemesanan hotel itu menjadi awal kerikil ujian untuk kami. Kami mencoba bersikap santai. Di sepanjang jalan kami menikmati sekali kebersamaan sambil memikirkan bagaimana nantinya. Tidak jauh dari sana kami menemukan masjid (lupa nama masjidnya) tidak terlalu jauh dari Hongkong Street. Bangunan berukuran sedang itu rapih dan bersih. Berada persis di antara gedung-gedung.

Orang Singapura sangat berhemat sekali dengan air. Ketika saya mengambil wudlu, air yang yang keluar kecil sekali. Dan banyak informasi tentang penghematan air. Pantesan air minum di sini mahal banget.


Dan yang membuat Masjid ini sama dengan Masjid yang ada di Indonesia adalah selepas Isya, masjid ini akan di tutup sampai nanti masuk shubuh. Padahal tadi berencana (lebih tepatnya sih, Si Sun) mau tidur di Masjid, tapi pupus sudah deh rencananya dia.

Setelah shalat Ashar kami mengatur rencana di teras Masjid, di sana berdiri mesin minuman. Di sebelah saya ada seorang Bapak asli Singapura. Bapak itu mengajak ngobrol saya. Dia tahu kalau kami dari Indonesia karena dia dengar kami ngobrol pake kata Gua, Elu hehe

Dia bilang, dia keturunan Indonesia dan sering ke Jakarta. Mereka puji kami karena berani main jauh ke Singapura. Dan akhirnya kami ngobrol banyak dengan dia. Di tengah obrolan kami, datang segerombolan anak kecil dengan sepedanya dan langsung menuju mesin minuman. Mengalihkan perhatian kami dari Bapak itu. Mereka dengan santai memencet tombol dan keluarlah segelas Milo panas dan dingin. Setelah habis, mereka langsung kabur begitu aja. Edan.

Teman-teman kayaknya fokus ke bocah-bocah itu dan menatap heran. Pasti berpikir kompak, “Nggak bayar, gratis.” Dengan cepat mereka semua pergi ke mesin minuman dan melakukan seperti yang bocah-bocah tadi lakukan. Hanya aku yang tidak ambil, awalnya.

Karena aku lihat ada kotak di sebelah mesin itu. Tertulis Amal seikhlasnya untuk yang minum, intinya sih begitu. Kayaknya mereka tidak lihat, karena panca inderanya telah dibutakan oleh mesin minuman penggugah dahaga.

Setelah fresh karena Minum milo, saya pilih kopi hitam akhirnya. Tergoda melihat mereka minum. Kami pun akhirnya pesan hotel di traveloka. Dan kami dapat hotel murah. Setelah minuman habis, kami pamit ke Bapak.

Kami berjalan kaki menuju hotel yang lokasinya tidak jauh dari hotel sebelumnya. Di tengah jalan saya bilang ke mereka.
“Eh guys, tadi itu kita harusnya bayar loh. Di sebelah mesin kan ada kotak amal. Itu tuh kotak untuk orang yang abis minum, seikhlasnya tulisannya.”
“Iya, tadi gue juga liat sih. Tapi anak kecil itu nggak bayar. Ya udah gue juga ikutan deh.” Mandar menambahkan. Mereka bertiga terdiam.

“Kok kalian berdua nggak kasih tau, sih. Bapak-bapak tadi juga nggak bilang. Kalo tau gitu kan tadi kita nggak usah ambil.” Sunandar memasang wajah bersalah. Wawan dan Bagus bersikap biasa.
“Ini pertanda, guys. Kayaknya suatu saat nanti kita harus ke sini lagi. Bayar minuman yang kita minum.” Timpal Sun, serius.
Kami semua hanya mengangguk.

***
Akhirnya kami menginap di City Backpackers. Setelah selesai mengurus perhotelan. Kami pun segera berbenah mengatur tempat tidur. Satu kamar terisi lima orang. Ada tiga tempat tidur tingkat. Rencana kami, setelah maghrib kami akan melanjutkan ke Universal Studio.


Kami berjalan kaki melewati Riverside yang gemerlap di malam hari dan beberapa kali mengambil foto. Malam ini cerah dan cuaca seperti ini memang yang kami harapkan. Karena tadi sore cuaca mendung dan gerimis.

Kam juga melewati lorong yang dindingnya penuh dengan gravity warna-warni dan ada dua musisi jalanan memainkankan gitar. Sekitar jam delapan kami keluar. Karena kami belum makan, di tengah jalan kami membeli makanan terlebih dahulu di mini market. Ada pemandangan yang menakjubkan di sini. Ternyata kasir dan pramuniaganya penyandang disabilitas. Salah satu kehebatan negara tetangga kita ini yang tidak ada di negara kita. Sun juga bilang kalau di Australia menerima para pekerja disabilitas.


Setelah naik MRT dari Clarke Quay kami turun di stasiun Harbour Front di dalam mall Vivo City. Sebenarnya kami tinggal naik ke lantai tiga menuju Monorail tapi kami malah keluar dan bingung. Di sini kami stuck. Google maps menjadi membingungkan. Saya melihat di sini emosi kami dimainkan. Mungkin karena lelah hasil dari efek berjalan dan berpikir mencari arah.




Kami sudah kayak sedang bermain mencari jejak. Ada Map di tangan dan google maps di genggaman. Si Sun meyakinkan, untuk lewat sini. Si Bagus, menurut google maps lewat sana. Wawan dan Mandar masih tenang dan bercanda-canda berdua. Dan saya coba menengahi semua ini.
Rencananya kami ingin naik Monorail. Dan setelah sampai di sana, dengan bertanya tepatnya. Pilihan kami yang bijak. Akhirnya kami ketemu tetapi tutup.

Akhirnya kami beralih untuk naik Bus. Di dekat stasiun ada terminal dan kami ke sana. Menurut google maps kami harus ke sana untuk menuju Universal Studios di pelang stop RWS 8. Kami sudah lelah, sudah malam.

Kami cari kok tidak ketemu. Padahal kami sudah di halte. Dan kami kembali bertanya ke orang yang ada di sana. Ibu-ibu dan keluarganya. Ketika kami tanya, ternyata mereka dari Jakarta dan baru turun dari bus ke Universal Studio. Pikir saya, berarti untuk naik di halte sebelah. Tetapi ibu itu di tanya malah bingung. Hadeuh.


Setelah mendapat informasi dari sumber terpercaya. Kami seharusnya menunggu di halte sebelah, RW 8. Karena ada dua halte di sini. Bersebelahan. Tidak lama bus datang, kami masuk dan berangkat. Tidak lebih dari dua dolar kalo nggak salah ongkosnya. Uang untuk transport dan yang menyangkut urusan bersama saya yang pegang.


Perjalanannya tidak sampai dua puluh menit. Dan sekitar jam sepuluh kami sampai. Sudah sepi. Universal Studio sudah tutup. Kami semua hanya bisa ketawa lega. Sukses menyelesaikan permainan mencari jejak. Yang bisa kami lakukan hanya berfoto-foto sampai puas, duduk-duduk sambil ngemil dan lanjut pulang ke hotel.

***
Tidak jauh dari hotel tempat kami menginap, kami mampir ke warung nasi lemak di pinggir jalan. Kami berlima pesan nasi lemak yang rasanya B aja. Kesempatan ini kami habiskan untuk mengobrol dan membicarakan rencana kami besok. Pergi ke Merlion, shalat jumat di Masjid Sultan, Kampung Arab dan ke Bugis Street membeli oleh-oleh dan pergi ke terminal untuk naik bus ke Malaysia.


***
Hari jum’at, hari kedua kami di Singapura.
Setelah menikmati breakfast roti panggang gratis sampai puas, kami pun melanjutkan perjalanan ke Merlion. Setelah keluar hotel, sesuatu yang tidak diharapkan terjadi. Gerimis datang. Selama di Singapura MRT itu memang sangat membantu dan kartu MRT itu berguna sekali untuk para traveler.
Sekitar jam delapan pagi hujan turun.



Membuat kami beberapa kali meneduh.ketika hujan berhenti kami memutuskan untuk membatalkan pergi ke Merlion dan beralih ke Museum of Singapore. Padahal kurang afdol kalo ke Singapura tidak ke Merlion. Kami berpikir sepertinya ini itu the signs untuk kami agar di kemudian hari kami bisa ke sini lagi. hehe

Setelah itu kami lanjut ke kampung Arab untuk shalat di Masjid Sultan. Ada kejadian menarik di sini. Setelah shalat jumat pihak masjid memberikan sekotak nasi kepada jamaah dan segelas jus jeruk. Subhanallah, luar biasa Singapura itu.

Dari Masjid Sultan ke Bugis Street kami jalan kaki. Di sepanjang jalan, warung makan buka dan dipenuhi oleh banyak orang yang ingin makan siang. Dan beberapa kali saya melihat warung yang menjual masakan Indonesia. Luar biasa.

Beberapa meter dari Bugis Street hujan turun, kami terpaksa berteduh kembali. Tetapi kami memutuskan menerebos hujan agar waktu tidak habis karena menunggu. Moment ini yang tidak akan pernah terlupakan buat saya. Dari pagi kami beberapa kali menerobos hujan sambil berjalan kaki. Berbasah-basahan bareng-bareng penuh ketawa sambil ngobrolin negara ini yang luar biasa, kok bisa? Tetangga kita loh?

Walaupun ini adalah pertama kali kami ke sini. Tapi kami seperti merasa ada di Jakarta, hanya lebih rapih, bersih dan maju. So, kalo nanti kami ke sini lagi. sendiri-sendiri pun nggak masalah.
Rencana kami hanya membeli oleh-oleh sekedarnya. Dan pada kenyataanya kami malah membeli banyak. Dari cokelat yang murah meriah, kaos sampai tas. Edan.

Selesai kami belanja hujan masih belum berhenti. Kami memutuskan untuk makan siang di restaurant fast food. Sambil menunggu hujan reda dan mengganjal perut karena lelah belanja. Meja sebelah terisi barang belanjaan kami. kolong meja juga penuh. Sumpah kami ketawa melihat ini semua. Tidak disangka belanjaan kami banyak juga. Padahal sih murah-murah semua. Hehe

Setelah kenyang makan, hujan berhenti kami pun meneruskan ke terminal naik bus. Jam tiga kami berangkat. Di terminal kami membeli bekal untuk makanan kami di bus. Selama kami di Singapura kayaknya kami lebih banyak menggunakan bahasa melayu dari pada Inggris. Karena mereka juga mengerti bahasa Indonesia.


Bus yang kami tumpangi terlihat bagus dan nyaman. Para penumpang belum boleh masuk, padahal busnya sudah ada. Jadi menunggu supirnya dulu. Kami terpaksa menunggu di luar. Ketika supirnya datang, supir itu menyuruh kami masuk dengan suara keras dan lantang. Pokoknya kurang bersahabat deh nih supir. Kami tidak boleh bawa makan ke bus ternyata. Barang-barang kami di taruh di bagasi dan dia lihatin kami sambil ngomel agar cepat.


Apesnya, kami duduk di belakang Pak Supir yang kerjaanya ngedumel sepanjang jalan.
Penumpang yang duduk di belakang, seorang perempuan yang beberapa kali kena semprot karena lama. Fiuuh.. Perjalanan kami ke Malaysia masih panjang. Sekitar empat jam kami baru sampai. Jadi, kami harus mengatur mood agar tidak berantakan dan istirahat untuk mencharge tenaga.
to be continued




Minggu, 15 Oktober 2017

Empat Hari Untuk Selamanya


 Part I  (Lima jiwa satu tujuan)


Akhir tahun 2016 saya and The Dreamers Ganks, Sun, Wawan dan Mandar, berencana melakukan Backpacker ke luar Indonesia, ke tiga negara, Singapura, Malaysia dan Thailand. Rencana ini sebenarnya sudah pernah kami buat dua tahun lalu, dan belum terealisasi karena beberapa hal. Padahal saya sudah buat passport itu di 2014. Manusia memang hanya bisa berencana, walau akhirnya tetap Tuhan yang menentukan.
Awal januari kami mulai manabung untuk membeli tiket. Uang dikumpulkan di Mandar. Awal bulan Maret kami harus berburu tiket budget airlines. Kami  memutuskan berangkat tanggal 11 Mei 2017, hari kamis.  Hanya empat hari, dengan rencana tiga negara, apa bisa?

Pertengahan awal januari kami kedatangan member baru. Dia teman baru saya, baru kenal juga di trip Kubbu akhir tahun lalu, waktu ke pulau semak daun. Dengan usaha dan selusin penjelasan serta rayuan kepada mereka akhirnya saya bisa meyakini ke tiga sahabat saya itu. Bagus (nama member baru)  diterima dan masuk The Dreamers Ganks, congratulations dude.. #overacting #lupakan

Perjalanan ini nantinya bisa di bilang cukup matang dari segi persiapan. Walaupun hanya empat hari, kami sudah mempersiapkan segalanya, dari itinerary, pembagian tugas per member, sampai jadwal meet up yang hampir setiap minggu. Kedengerannya sih ribet benget ya, wong cuma ke negara tetangga doang, sebentar lagi, tapi udah kaya mau ke Eropa setahun.


Mungkin karena kami berempat belum pernah ada yang keluar negeri, dan  hanya Sun yang sudah pernah dan setteled setahun di benua hijau. Dan juga untuk membuat chemistry kami berjalan lancar dan baik, karena menyatukan ide dari lima kepala menjadi satu bukan hal mudah walaupun kami sudah kenal baik sebelumnya.

Pertemuan berikutnya kami memutuskan ulang tujuan kami dan sepakat untuk ke Singapura dan Malaysia saja, kami 'membuang' Thailand. Dengan alasan waktu yang tidak memungkinkan untuk mengeksplore tiga negara dalam waktu empat hari. Oh iya, kami menukar uang di Ayumas Agung, Money Changer di daerah Kwitang, di dalam toko buku Gunung Agung, di sini terkenal karena ratenya bagus.

***

Setelah menunggu selama lima bulan, akhirnya waktu yang ditunggu-tunggu tiba. Kami boarding pukul 12.00 siang dan landing pukul 02.15 siang. Sesampainya di Changi yang megah, saya langsung pergi ke toilet, dan memang benar bersih. Bagi yang mau BAB di sini, siap-siap harus memakai tissue ya untuk bersih-bersihnya. Berhubung kami belum shalat zhuhur, kami pun bergegas mencari mushola. Kami mencoba berjalan di escalator buat pejalan kaki untuk kali pertamanya saya dan ketiga sahabat mencoba ini.



Bandaranya megah, berasa ada GI (Grand Indonesia) di dalam bandara hehe (mulai norak deh gue). Tidak lama kami menemukan Mushola dan lima belas menit kemudian kami pergi untuk cari makan siang. Menurut saran Sun, kami lebih baik makan siang di Staff Canteen bandara karena jauh lebih murah. Dan benar saja makanan di sini memang jauh lebih murah dibandingkan dengan yang ada di dalam bandara bahkan sama public foodcourt pun masih tetap lebih murah di sini.

Di staff canteen pun yang jual banyak kok, jadi nggak usah khawatir. Sesampainya di sana, setelah muter-muter nyari menu makanan, dan bingung juga. Akhirnya kami kompak memilih menu Ayam Penyet dan Air Mineral, benar-benar backpacker dan Indonesia banget. Penjualnya orang kita euy, dari kalimantan asal jawa. Saya lupa nama Ibunya, yang jelas ibu itu baik dan kami juga ngobrol bareng. Oh iya, ibu itu sudah sepuluh tahun di Singapura. Luar biasa.



Harga satu porsi ayam penyet adalah $ 6  dan air mineral 600 ml $ 1.40 sekitar tujuh puluh ribuan sekali makan. Kalo di Jakarta, makan ayam penyet pinggir jalan pasti udah kenyang banget tuh hehe. Setelah makan kami di antar Ibu (Bukan Ibu yang ada di Pengabdi Setan ya guys hehe) penjaga kedai ayam penyet, ke bagian imgrasi, cek passport.

Dia mau sekalian pulang juga katanya. Dan Ibu juga menyarankan untuk isi ulang botol air minum. Lumayan lah, karena air mineral di sini mahal banget. Setelah antri mengantri di imigrasi, kami lanjut naik skytrain menuju terminal 2 naik MRT (Mass Rapid Transit) menuju kota. Skytrain hanya terdiri dari dua gerbong dan langsung melesat menuju terminal 2.

Rencananya kami mau ke daerah Clarke Quay dan lanjut jalan kaki menuju Hostel kami di Hongkong street. Beli tiketnya kami menggunakan mesin yang sudah tersedia, mudah ternyata guys. Cukup $ 5 saja. Dan nanti dapat kartu yang bisa dipakai enam kali. Kurang lebih kayak mesin tiket commuterline yang ada di Jakarta.

Di dalam stasiunnya rapih sekali. Segalanya serba teratur. Dan orang-orang di sana hampir sama sekali tidak bersuara atau mengobrol. Mereka asyik dengan gadgetnya masing-masing. Seperti layaknya orang-orang yang tinggal di negara maju. Urusanmu bukan urusanku dan urusanku juga bukan urusanmu. Sepertinya saya jatuh cinta dengan negara ini.

Petunjuk di sini sangat jelas sekali, jadi kemungkinan kecil sekali kita bakal bingung. Papan petunjuknya juga menggunakan selain bahasa Inggris, ada melayu juga. Dan kita juga nggak usah khawatir, kalo kita nggak bisa bahasa Inggris, mereka ngerti kok bahasa kita (Indonesia).
Tapi rasanya sayang deh kalo kita nggak practice bahasa Inggris kita di sini, So, let’s speaks english together lah. Ala Singlish.

***

Akhirnya kami sampai di Clarke Quay dan lanjut jalan ke kaki menuju Hongkong Street. Sambil jalan kaki kami foto-foto. Orang-orang di Singapura sangat teratur dan mematuhi rambu-rambu lintas sekali.


Tidak lama kami sampai di Hostel. Untuk urusan pembelian tiket pesawat dan hostel mandar yang mengurus. Jadi semuanya sudah kami percayakan ke dia. Setelah kami check in, ternyata kamar yang kami tempati hanya untuk dua orang saja. Menurut dia, sebelumnya dia sudah booked untuk satu kamar, yang akan cukup untuk lima orang.  Dan kami pun sudah diberi tahu. Ternyata yang dimaksud adalah kamar ini memang cukup untuk lima orang, tetapi hanya bisa digunakan untuk dua orang saja. Mandar mengira kalau dengan harga dua orang bisa ditempati lima orang.

Berhubung dia perempuan sendiri, tidak mungkin kalau salah satu dari kami sekamar dengan dia. Kami berembug kembali, Mandar memasang muka pucat dan nggak berhenti-henti ngucapin kata maaf ke kami. Dalam keadaan capek kami mendadak diam. Berpikir sejenak.
Fiuuh... cobaan pertama kami.

To be continued...