Minggu, 18 Februari 2018

Fiksi Mini





Kartu Busway

Seorang Bapak tua seperti sedang kebingungan berdiri di depan pintu masuk halte busway.
"Mau masuk, Pak?" Tanyaku ramah. Ah, aku mendadak teringat Bapak di rumah.

"Iya, Mba. Tapi Bapak ndak punya kartu."
Ternyata Bapak ini baru pertama kali naik busway dan tidak tahu jika sekarang untuk naik busway harus menggunakan kartu.

Aku pinjamkaan kartuku dan Bapak itu pun masuk sambil memberikan banyak ucapan terima kasih kepadaku.
***

"Sekarang naek busway ntu kudu pake kartu ya, Neng?" Tanya Bapakku sambil menyeruput kopi hitamnya.

"Iya. Udah lama. Emang napa, Pak?"
Semenjak bekerja dan ngekost di Jakarta, tiap dua minggu sekali baru aku bisa pulang ke rumah di Cikarang.

"Minggu maren, Bapak sama Bang Roji ke Kota Tua. Mau nyoba naik busway nggak bisa. Katanya harus pake kartu, kita bedua mah nggak gablek begituan. Untung ada Mba-Mba seumuran lu, Neng. Minjemin kartu. Jadi bisa masuk dah kita."



Minggu Siang
Minggu siang, aku melewati jembatan penyeberangan.
Seorang bapak yang terduduk sambil menyapu jembatan penyeberangan, menengadahkan tangan kanannya ke arahku. Tangan kirinya memegang sapu bergagang pendek.

"Maaf, Pak." Aku hanya tersenyum sambil mengisyatkan dengan tangan pertanda 'tidak.'
***

Tengah malam, aku melewati jembatan penyeberangan itu kembali.
Di sudut jembatan penyeberangan, aku melihat bapak itu lagi. Terduduk sambil menunduk.

Aku melewatinya, dia terlihat sibuk. Pandanganku tertuju pada sesuatu yang ada di hadapannya.
Uang dengan berbagai nominal terhampar banyak sekali. Terlihat pecahan seribu rupiah sampai sepuluh ribu rupiah.

Aku berlalu, tetapi Bapak itu masih sibuk menghitung, tidak peduli denganku dan angin malam yang mulai menyerang.





Halte


Bus ke Bekasi sudah datang. Halte BNN nampak lengang di minggu siang ini.
Aku menuruni anak tangga, agar mempercepat gerakku, headset yang dari tadi terpasang di telingaku aku lepas dan memasukkannya ke dalam ransel bersama handphone yang ku pegang.

Di depan anak tangga terakhir, berdiri seorang bapak. Tersenyum ke arahku. Aku pun membalasnya dan berlalu.

Bus masih menunggu, aku berhasil naik beberapa detik sebelum meninggalkan halte.
Aku terduduk lega karena berhasil mendapat tempat duduk. Ku pindahkan posisi ransel kepangkuanku.
Ranselku terbuka, headsetku menggantung dan handphoneku raib.

Jumat, 29 Desember 2017

Empat Hari Untuk Selamanya


Part II (Karena bersama, tidak selamanya sama)
Di Part I, saya dan teman-teman salah pesan kamar. Di tengah kondisi yang masih lelah, kami semua mendadak diam. Mencoba tenang sambil mencari jalan keluar.





Daripada kami berdiam di sini, kami memutuskan untuk keluar dan pergi mencari Masjid untuk shalat ashar. Selama di Singapura, google maps itu sangat membantu kami sekali. Untuk PIC pengarah jalan kami adalah Bagus. Melalui handphonenya kami benar-benar terbantu mencari lokasi dan mendapatkan informasi. Sebenarnya handphone kami bisa, tapi yang cuma terisi paket internet hanya Bagus saja.


Perihal kesalahan pemesanan hotel itu menjadi awal kerikil ujian untuk kami. Kami mencoba bersikap santai. Di sepanjang jalan kami menikmati sekali kebersamaan sambil memikirkan bagaimana nantinya. Tidak jauh dari sana kami menemukan masjid (lupa nama masjidnya) tidak terlalu jauh dari Hongkong Street. Bangunan berukuran sedang itu rapih dan bersih. Berada persis di antara gedung-gedung.

Orang Singapura sangat berhemat sekali dengan air. Ketika saya mengambil wudlu, air yang yang keluar kecil sekali. Dan banyak informasi tentang penghematan air. Pantesan air minum di sini mahal banget.


Dan yang membuat Masjid ini sama dengan Masjid yang ada di Indonesia adalah selepas Isya, masjid ini akan di tutup sampai nanti masuk shubuh. Padahal tadi berencana (lebih tepatnya sih, Si Sun) mau tidur di Masjid, tapi pupus sudah deh rencananya dia.

Setelah shalat Ashar kami mengatur rencana di teras Masjid, di sana berdiri mesin minuman. Di sebelah saya ada seorang Bapak asli Singapura. Bapak itu mengajak ngobrol saya. Dia tahu kalau kami dari Indonesia karena dia dengar kami ngobrol pake kata Gua, Elu hehe

Dia bilang, dia keturunan Indonesia dan sering ke Jakarta. Mereka puji kami karena berani main jauh ke Singapura. Dan akhirnya kami ngobrol banyak dengan dia. Di tengah obrolan kami, datang segerombolan anak kecil dengan sepedanya dan langsung menuju mesin minuman. Mengalihkan perhatian kami dari Bapak itu. Mereka dengan santai memencet tombol dan keluarlah segelas Milo panas dan dingin. Setelah habis, mereka langsung kabur begitu aja. Edan.

Teman-teman kayaknya fokus ke bocah-bocah itu dan menatap heran. Pasti berpikir kompak, “Nggak bayar, gratis.” Dengan cepat mereka semua pergi ke mesin minuman dan melakukan seperti yang bocah-bocah tadi lakukan. Hanya aku yang tidak ambil, awalnya.

Karena aku lihat ada kotak di sebelah mesin itu. Tertulis Amal seikhlasnya untuk yang minum, intinya sih begitu. Kayaknya mereka tidak lihat, karena panca inderanya telah dibutakan oleh mesin minuman penggugah dahaga.

Setelah fresh karena Minum milo, saya pilih kopi hitam akhirnya. Tergoda melihat mereka minum. Kami pun akhirnya pesan hotel di traveloka. Dan kami dapat hotel murah. Setelah minuman habis, kami pamit ke Bapak.

Kami berjalan kaki menuju hotel yang lokasinya tidak jauh dari hotel sebelumnya. Di tengah jalan saya bilang ke mereka.
“Eh guys, tadi itu kita harusnya bayar loh. Di sebelah mesin kan ada kotak amal. Itu tuh kotak untuk orang yang abis minum, seikhlasnya tulisannya.”
“Iya, tadi gue juga liat sih. Tapi anak kecil itu nggak bayar. Ya udah gue juga ikutan deh.” Mandar menambahkan. Mereka bertiga terdiam.

“Kok kalian berdua nggak kasih tau, sih. Bapak-bapak tadi juga nggak bilang. Kalo tau gitu kan tadi kita nggak usah ambil.” Sunandar memasang wajah bersalah. Wawan dan Bagus bersikap biasa.
“Ini pertanda, guys. Kayaknya suatu saat nanti kita harus ke sini lagi. Bayar minuman yang kita minum.” Timpal Sun, serius.
Kami semua hanya mengangguk.

***
Akhirnya kami menginap di City Backpackers. Setelah selesai mengurus perhotelan. Kami pun segera berbenah mengatur tempat tidur. Satu kamar terisi lima orang. Ada tiga tempat tidur tingkat. Rencana kami, setelah maghrib kami akan melanjutkan ke Universal Studio.


Kami berjalan kaki melewati Riverside yang gemerlap di malam hari dan beberapa kali mengambil foto. Malam ini cerah dan cuaca seperti ini memang yang kami harapkan. Karena tadi sore cuaca mendung dan gerimis.

Kam juga melewati lorong yang dindingnya penuh dengan gravity warna-warni dan ada dua musisi jalanan memainkankan gitar. Sekitar jam delapan kami keluar. Karena kami belum makan, di tengah jalan kami membeli makanan terlebih dahulu di mini market. Ada pemandangan yang menakjubkan di sini. Ternyata kasir dan pramuniaganya penyandang disabilitas. Salah satu kehebatan negara tetangga kita ini yang tidak ada di negara kita. Sun juga bilang kalau di Australia menerima para pekerja disabilitas.


Setelah naik MRT dari Clarke Quay kami turun di stasiun Harbour Front di dalam mall Vivo City. Sebenarnya kami tinggal naik ke lantai tiga menuju Monorail tapi kami malah keluar dan bingung. Di sini kami stuck. Google maps menjadi membingungkan. Saya melihat di sini emosi kami dimainkan. Mungkin karena lelah hasil dari efek berjalan dan berpikir mencari arah.




Kami sudah kayak sedang bermain mencari jejak. Ada Map di tangan dan google maps di genggaman. Si Sun meyakinkan, untuk lewat sini. Si Bagus, menurut google maps lewat sana. Wawan dan Mandar masih tenang dan bercanda-canda berdua. Dan saya coba menengahi semua ini.
Rencananya kami ingin naik Monorail. Dan setelah sampai di sana, dengan bertanya tepatnya. Pilihan kami yang bijak. Akhirnya kami ketemu tetapi tutup.

Akhirnya kami beralih untuk naik Bus. Di dekat stasiun ada terminal dan kami ke sana. Menurut google maps kami harus ke sana untuk menuju Universal Studios di pelang stop RWS 8. Kami sudah lelah, sudah malam.

Kami cari kok tidak ketemu. Padahal kami sudah di halte. Dan kami kembali bertanya ke orang yang ada di sana. Ibu-ibu dan keluarganya. Ketika kami tanya, ternyata mereka dari Jakarta dan baru turun dari bus ke Universal Studio. Pikir saya, berarti untuk naik di halte sebelah. Tetapi ibu itu di tanya malah bingung. Hadeuh.


Setelah mendapat informasi dari sumber terpercaya. Kami seharusnya menunggu di halte sebelah, RW 8. Karena ada dua halte di sini. Bersebelahan. Tidak lama bus datang, kami masuk dan berangkat. Tidak lebih dari dua dolar kalo nggak salah ongkosnya. Uang untuk transport dan yang menyangkut urusan bersama saya yang pegang.


Perjalanannya tidak sampai dua puluh menit. Dan sekitar jam sepuluh kami sampai. Sudah sepi. Universal Studio sudah tutup. Kami semua hanya bisa ketawa lega. Sukses menyelesaikan permainan mencari jejak. Yang bisa kami lakukan hanya berfoto-foto sampai puas, duduk-duduk sambil ngemil dan lanjut pulang ke hotel.

***
Tidak jauh dari hotel tempat kami menginap, kami mampir ke warung nasi lemak di pinggir jalan. Kami berlima pesan nasi lemak yang rasanya B aja. Kesempatan ini kami habiskan untuk mengobrol dan membicarakan rencana kami besok. Pergi ke Merlion, shalat jumat di Masjid Sultan, Kampung Arab dan ke Bugis Street membeli oleh-oleh dan pergi ke terminal untuk naik bus ke Malaysia.


***
Hari jum’at, hari kedua kami di Singapura.
Setelah menikmati breakfast roti panggang gratis sampai puas, kami pun melanjutkan perjalanan ke Merlion. Setelah keluar hotel, sesuatu yang tidak diharapkan terjadi. Gerimis datang. Selama di Singapura MRT itu memang sangat membantu dan kartu MRT itu berguna sekali untuk para traveler.
Sekitar jam delapan pagi hujan turun.



Membuat kami beberapa kali meneduh.ketika hujan berhenti kami memutuskan untuk membatalkan pergi ke Merlion dan beralih ke Museum of Singapore. Padahal kurang afdol kalo ke Singapura tidak ke Merlion. Kami berpikir sepertinya ini itu the signs untuk kami agar di kemudian hari kami bisa ke sini lagi. hehe

Setelah itu kami lanjut ke kampung Arab untuk shalat di Masjid Sultan. Ada kejadian menarik di sini. Setelah shalat jumat pihak masjid memberikan sekotak nasi kepada jamaah dan segelas jus jeruk. Subhanallah, luar biasa Singapura itu.

Dari Masjid Sultan ke Bugis Street kami jalan kaki. Di sepanjang jalan, warung makan buka dan dipenuhi oleh banyak orang yang ingin makan siang. Dan beberapa kali saya melihat warung yang menjual masakan Indonesia. Luar biasa.

Beberapa meter dari Bugis Street hujan turun, kami terpaksa berteduh kembali. Tetapi kami memutuskan menerebos hujan agar waktu tidak habis karena menunggu. Moment ini yang tidak akan pernah terlupakan buat saya. Dari pagi kami beberapa kali menerobos hujan sambil berjalan kaki. Berbasah-basahan bareng-bareng penuh ketawa sambil ngobrolin negara ini yang luar biasa, kok bisa? Tetangga kita loh?

Walaupun ini adalah pertama kali kami ke sini. Tapi kami seperti merasa ada di Jakarta, hanya lebih rapih, bersih dan maju. So, kalo nanti kami ke sini lagi. sendiri-sendiri pun nggak masalah.
Rencana kami hanya membeli oleh-oleh sekedarnya. Dan pada kenyataanya kami malah membeli banyak. Dari cokelat yang murah meriah, kaos sampai tas. Edan.

Selesai kami belanja hujan masih belum berhenti. Kami memutuskan untuk makan siang di restaurant fast food. Sambil menunggu hujan reda dan mengganjal perut karena lelah belanja. Meja sebelah terisi barang belanjaan kami. kolong meja juga penuh. Sumpah kami ketawa melihat ini semua. Tidak disangka belanjaan kami banyak juga. Padahal sih murah-murah semua. Hehe

Setelah kenyang makan, hujan berhenti kami pun meneruskan ke terminal naik bus. Jam tiga kami berangkat. Di terminal kami membeli bekal untuk makanan kami di bus. Selama kami di Singapura kayaknya kami lebih banyak menggunakan bahasa melayu dari pada Inggris. Karena mereka juga mengerti bahasa Indonesia.


Bus yang kami tumpangi terlihat bagus dan nyaman. Para penumpang belum boleh masuk, padahal busnya sudah ada. Jadi menunggu supirnya dulu. Kami terpaksa menunggu di luar. Ketika supirnya datang, supir itu menyuruh kami masuk dengan suara keras dan lantang. Pokoknya kurang bersahabat deh nih supir. Kami tidak boleh bawa makan ke bus ternyata. Barang-barang kami di taruh di bagasi dan dia lihatin kami sambil ngomel agar cepat.


Apesnya, kami duduk di belakang Pak Supir yang kerjaanya ngedumel sepanjang jalan.
Penumpang yang duduk di belakang, seorang perempuan yang beberapa kali kena semprot karena lama. Fiuuh.. Perjalanan kami ke Malaysia masih panjang. Sekitar empat jam kami baru sampai. Jadi, kami harus mengatur mood agar tidak berantakan dan istirahat untuk mencharge tenaga.
to be continued




Minggu, 15 Oktober 2017

Empat Hari Untuk Selamanya


 Part I  (Lima jiwa satu tujuan)


Akhir tahun 2016 saya and The Dreamers Ganks, Sun, Wawan dan Mandar, berencana melakukan Backpacker ke luar Indonesia, ke tiga negara, Singapura, Malaysia dan Thailand. Rencana ini sebenarnya sudah pernah kami buat dua tahun lalu, dan belum terealisasi karena beberapa hal. Padahal saya sudah buat passport itu di 2014. Manusia memang hanya bisa berencana, walau akhirnya tetap Tuhan yang menentukan.
Awal januari kami mulai manabung untuk membeli tiket. Uang dikumpulkan di Mandar. Awal bulan Maret kami harus berburu tiket budget airlines. Kami  memutuskan berangkat tanggal 11 Mei 2017, hari kamis.  Hanya empat hari, dengan rencana tiga negara, apa bisa?

Pertengahan awal januari kami kedatangan member baru. Dia teman baru saya, baru kenal juga di trip Kubbu akhir tahun lalu, waktu ke pulau semak daun. Dengan usaha dan selusin penjelasan serta rayuan kepada mereka akhirnya saya bisa meyakini ke tiga sahabat saya itu. Bagus (nama member baru)  diterima dan masuk The Dreamers Ganks, congratulations dude.. #overacting #lupakan

Perjalanan ini nantinya bisa di bilang cukup matang dari segi persiapan. Walaupun hanya empat hari, kami sudah mempersiapkan segalanya, dari itinerary, pembagian tugas per member, sampai jadwal meet up yang hampir setiap minggu. Kedengerannya sih ribet benget ya, wong cuma ke negara tetangga doang, sebentar lagi, tapi udah kaya mau ke Eropa setahun.


Mungkin karena kami berempat belum pernah ada yang keluar negeri, dan  hanya Sun yang sudah pernah dan setteled setahun di benua hijau. Dan juga untuk membuat chemistry kami berjalan lancar dan baik, karena menyatukan ide dari lima kepala menjadi satu bukan hal mudah walaupun kami sudah kenal baik sebelumnya.

Pertemuan berikutnya kami memutuskan ulang tujuan kami dan sepakat untuk ke Singapura dan Malaysia saja, kami 'membuang' Thailand. Dengan alasan waktu yang tidak memungkinkan untuk mengeksplore tiga negara dalam waktu empat hari. Oh iya, kami menukar uang di Ayumas Agung, Money Changer di daerah Kwitang, di dalam toko buku Gunung Agung, di sini terkenal karena ratenya bagus.

***

Setelah menunggu selama lima bulan, akhirnya waktu yang ditunggu-tunggu tiba. Kami boarding pukul 12.00 siang dan landing pukul 02.15 siang. Sesampainya di Changi yang megah, saya langsung pergi ke toilet, dan memang benar bersih. Bagi yang mau BAB di sini, siap-siap harus memakai tissue ya untuk bersih-bersihnya. Berhubung kami belum shalat zhuhur, kami pun bergegas mencari mushola. Kami mencoba berjalan di escalator buat pejalan kaki untuk kali pertamanya saya dan ketiga sahabat mencoba ini.



Bandaranya megah, berasa ada GI (Grand Indonesia) di dalam bandara hehe (mulai norak deh gue). Tidak lama kami menemukan Mushola dan lima belas menit kemudian kami pergi untuk cari makan siang. Menurut saran Sun, kami lebih baik makan siang di Staff Canteen bandara karena jauh lebih murah. Dan benar saja makanan di sini memang jauh lebih murah dibandingkan dengan yang ada di dalam bandara bahkan sama public foodcourt pun masih tetap lebih murah di sini.

Di staff canteen pun yang jual banyak kok, jadi nggak usah khawatir. Sesampainya di sana, setelah muter-muter nyari menu makanan, dan bingung juga. Akhirnya kami kompak memilih menu Ayam Penyet dan Air Mineral, benar-benar backpacker dan Indonesia banget. Penjualnya orang kita euy, dari kalimantan asal jawa. Saya lupa nama Ibunya, yang jelas ibu itu baik dan kami juga ngobrol bareng. Oh iya, ibu itu sudah sepuluh tahun di Singapura. Luar biasa.



Harga satu porsi ayam penyet adalah $ 6  dan air mineral 600 ml $ 1.40 sekitar tujuh puluh ribuan sekali makan. Kalo di Jakarta, makan ayam penyet pinggir jalan pasti udah kenyang banget tuh hehe. Setelah makan kami di antar Ibu (Bukan Ibu yang ada di Pengabdi Setan ya guys hehe) penjaga kedai ayam penyet, ke bagian imgrasi, cek passport.

Dia mau sekalian pulang juga katanya. Dan Ibu juga menyarankan untuk isi ulang botol air minum. Lumayan lah, karena air mineral di sini mahal banget. Setelah antri mengantri di imigrasi, kami lanjut naik skytrain menuju terminal 2 naik MRT (Mass Rapid Transit) menuju kota. Skytrain hanya terdiri dari dua gerbong dan langsung melesat menuju terminal 2.

Rencananya kami mau ke daerah Clarke Quay dan lanjut jalan kaki menuju Hostel kami di Hongkong street. Beli tiketnya kami menggunakan mesin yang sudah tersedia, mudah ternyata guys. Cukup $ 5 saja. Dan nanti dapat kartu yang bisa dipakai enam kali. Kurang lebih kayak mesin tiket commuterline yang ada di Jakarta.

Di dalam stasiunnya rapih sekali. Segalanya serba teratur. Dan orang-orang di sana hampir sama sekali tidak bersuara atau mengobrol. Mereka asyik dengan gadgetnya masing-masing. Seperti layaknya orang-orang yang tinggal di negara maju. Urusanmu bukan urusanku dan urusanku juga bukan urusanmu. Sepertinya saya jatuh cinta dengan negara ini.

Petunjuk di sini sangat jelas sekali, jadi kemungkinan kecil sekali kita bakal bingung. Papan petunjuknya juga menggunakan selain bahasa Inggris, ada melayu juga. Dan kita juga nggak usah khawatir, kalo kita nggak bisa bahasa Inggris, mereka ngerti kok bahasa kita (Indonesia).
Tapi rasanya sayang deh kalo kita nggak practice bahasa Inggris kita di sini, So, let’s speaks english together lah. Ala Singlish.

***

Akhirnya kami sampai di Clarke Quay dan lanjut jalan ke kaki menuju Hongkong Street. Sambil jalan kaki kami foto-foto. Orang-orang di Singapura sangat teratur dan mematuhi rambu-rambu lintas sekali.


Tidak lama kami sampai di Hostel. Untuk urusan pembelian tiket pesawat dan hostel mandar yang mengurus. Jadi semuanya sudah kami percayakan ke dia. Setelah kami check in, ternyata kamar yang kami tempati hanya untuk dua orang saja. Menurut dia, sebelumnya dia sudah booked untuk satu kamar, yang akan cukup untuk lima orang.  Dan kami pun sudah diberi tahu. Ternyata yang dimaksud adalah kamar ini memang cukup untuk lima orang, tetapi hanya bisa digunakan untuk dua orang saja. Mandar mengira kalau dengan harga dua orang bisa ditempati lima orang.

Berhubung dia perempuan sendiri, tidak mungkin kalau salah satu dari kami sekamar dengan dia. Kami berembug kembali, Mandar memasang muka pucat dan nggak berhenti-henti ngucapin kata maaf ke kami. Dalam keadaan capek kami mendadak diam. Berpikir sejenak.
Fiuuh... cobaan pertama kami.

To be continued...












Rabu, 23 Agustus 2017

Jujurlah, Minimal Kepada Diri Sendiri



Terkadang kita memang harus keras kepada diri kita. Jujur tentang apa yang sedang kita rasakan. Dan berani untuk mengambil resiko dalam keputusan yang akan kita buat. Tidak mudah melakukan itu semua. Tetapi bukannya tidak bisa dilakukan. Memang sekali-kali kita harus dimasukkan dulu ke dalam peristiwa yang membuat kita terbelalak, gelagapan lalu tersadar.

Peristiwa yang membuat kita berani, berani untuk jujur, jujur terhadap diri kita sendiri. Kita manusia biasa, lelah jika harus terus berpura-pura. Kita harus berani, berani membuat keputusan dan sikap walaupun kita harus dibenci orang-orang disekitar kita.

Kita bukan dia, kita bukan mereka. Jangan pernah membanding-bandingkan diri kita dengan orang lain. Kita tidak harus mengikuti mereka, kita tidak harus sama. Mempunyai prinsip hidup. Mempunyai pegangan hidup yang kuat. Berani, berani menerima resiko. Berani jujur, berarti berani dan siap untuk dibenci. Setidaknya kita sudah jujur, tidak membohongi.

Bukannya berani jujur itu hebat. Jujur untuk sesuatu yang kita yakini. Kita pasti punya alasan untuk setiap keputusan yang kita buat. Peduli amat orang mau bilang apa. Kita juga harus siap menerima segala macam bentuk reaksi dari luar. Itu resiko, bukannya hidup itu penuh dengan resiko. Di sanalah letak keberanian dan kejujuran kita, berani mengambil resiko yang tak tau apa bakal terjadi.

Manusia itu memang harus dihadapkan masalah yang pelik terlebih dahulu, agar mereka tersadar. Tuhan pasti tahu. Makanya Dia memberikan itu, ujian. Agar kita menjadi manusia yang lebih baik lagi. Tahan banting, tidak cengeng dengan keadaan.

Mereka yang sudah berani memilih, mengambil keputusan dalam hidupnya adalah manusia yang hebat. Tidak peduli itu keputusan benar atau salah di mata awam manusia.

Tidak ada yang benar dan tidak ada yang salah. Semua itu bisa ternilai, tergantung oleh sudut pandang siapa. Karena setiap orang punya sudut pandangnya masing-masing. Manusia tidak pantas menghakimi manusia lain. Yang pantas hanya Dia, Tuhan.

Beranilah jujur kawan, setidaknya pada diri sendiri. 

Kamis, 17 Agustus 2017

Yuk Kenalan dengan Generasi Y






Generasi  Y atau generasi Millenial adalah manusia yang lahir di tahun 1981 sampai 1995. Generasi yang paling mendominasi di dunia saat ini. ‘Me me me generation’ adalah istilah lain untuk menyebut generasi Y menurut majalah Time. Sebelum membahas generasi Y lebih banyak lagi, kita kenalan dulu yuk dengan generasi yang ada sebelum dan sesudah generasi  Y.

1.      Baby Boomers
Mereka yang lahir sekitar tahun 1946-1960 disebut dengan generasi Baby Boomers, yang lahir pasca perang dunia ke II. Kakek- nenek kita masuk ke dalam generasi ini.

2.      Generasi X
Generasi X lahir sekitar tahun 1961-1980. Generasi ini adalah generasi Bapak-Ibu kita.

3.      Generasi  Z .
Generasi yang lahir sekitar tahun 1995 sampai saat ini merupakan generasi yang melek dan fasih sekali teknologi. Karena mereka hidup di era kemajuan teknologi yang cukup banyak mempengaruhi perilaku dan kepribadian mereka.




Nah, setelah perkenalan  dengan berbagai macam generasi di atas, kita akan lanjut membahas generasi Y atau generasi millenial. Yup, generasi ini memang lagi jadi bahan pembicaraan dimana-mana. Karena mayoritas penduduk bumi ini di huni oleh generasi millenial, macam kita. Generasi ini bisa dikenali dengan mudah kok, karena keberadaan mereka tersebar di sekitar kita.

Ada beberapa ciri yang mencerminkan genearasi ini. Manusia kekinian yang tidak bisa lepas dengan yang namanya Gadget. Coba deh kasih pilihan ke generasi millenial, mau ketinggalan dompet apa Gadget? Pasti sontak mereka jawab, Gadget. Yang merasa generasi Millenial pasti senyum-senyum deh.

Mereka biasanya suka menggunakan headset dan fokus ke gadgetnya, entah mereka sedang bersosial media (instagram, path atau twitter), browsing, baca buku ataupun sedang belanja online. Satu lagi, generasi ini paling hobi yang namanya selfie. “No picture is hoax.”




Mereka itu juga paling jago dalam hal multitasking. Bahkan pada saat kerja mereka pun biasa melakukan itu. Misalnya sedang buat laporan sambil dengerin musik, baca notifikasi di sosial media atau twitteran.



Generasi ini memang beda dan senang tampil beda. Mereka suka berpenampilan casual atau santai seperti kaos dan jeans. Pada umunya generasi Y ini adalah generasi yang pintar, kreatif dan update informasi. Karena mereka besar di era teknologi yang maju. Di era internet dan teknologi digital saat ini. Apa yang meraka cari sangat mudah ditemukan dengan bantuan internet. Para generasi millenial ini wajib mempunyai akun sosial media, dan pasti lebih dari satu. Seperti facebook, instagram, twitter, path dsb.

Sosial media sudah menjadi media untuk menunjukkan siapa mereka, eksistensi dan juga sebagai cara berkomunikasi mereka,mendekatkan yang jauh, dan menjauhkan yang dekat.
Dalam dunia kerja, generasi Millenial ini biasa mendapat julukan si kutu loncat karena seringnya berpindah kerja. Karena mereka cepat bosan dan suka mencoba hal baru, biasanya masa kerja mereka paling lama tidak lebih dari tiga tahun.

Generasi millenial ini memang sedang menjadi sorotan oleh para pemimpin perusahaan dikarenakan karyawan mereka yang berasal dari generasi Y tidak pernah tahan lama berkerja di perusahaannya. Para pemimpin tersebut ingin mempelajari karakter mereka yang terkesan santai tetapi bernilai tinggi.

 kompas.com


Para generasi millenial ini mengidam-idamkan pekerjaan yang fleksibel, santai, tidak banyak aturan, gaji besar dan  juga ingin dihargai. Mendambakan pekerjaan yang fleksibel karena para millenial ini menyukai hobi travelling. Selain itu, kegiatan yang dilakukan dikantor disela-selanya adalah window shopping di situs belanja online atau mencari tiket promo.

Selain hobi jalan-jalan, generasi Y ini juga mempunyai hobi nongkrong di warung kopi yang sedang menjamur di kota-kota besar. Dan tidak jarang owner dari warung kopi atau kedai kopi adalah generasi millenial itu sendiri.

Itulah sedikit gambaran dari generasi Y atau generasi Millenial yang unik. Pada tahun 2020 nanti, dunia kerja akan di dominasi oleh generasi Y dengan jumlah populasi usia produktif atau biasa disebut dengan bonus demografi yang bisa mencapai 70 persen dari total jumlah penduduk.

           

























Jumat, 14 April 2017

Mengenal Tiga Tipe Kepribadian Manusia (Personality)







                                                 Mengenal Tiga Tipe Kepribadian Manusia (Personality) 



 
http://www.beritacianjur.com/read/7381/mengenal-3-jenis-kepribadian-manusia


      
      Hari ini saya ingin menulis tentang Kepribadian Manusia atau Personality. Nggak tahu kenapa saya suka baca artikel atau buku tentang Psikologi atau yang berkaitan dengan Kepribadian Manusia. Dan memperhatikan karakter orang-orang disekitar itu salah satu hobi saya. Agak awkward ya kedengarannya, hehe..

Oh ya, menurut ahli Psikologi asal Swiss, Bapak Carl Gustav Jung (C. G Jung), terdapat tiga jenis tipe kepribadian yang dimiliki manusia. Mungkin kalian tidak asing dengan kedua tipe kepribadian ini, Introvert dan Ekstrovert. Tetapi pernahkah kalian tahu sebelumnya bahwa kepribadian yang ketiga ini kurang populer dibandingkan yang lain, yaitu Ambivert.
 
      Sebelumnya saya akan memberikan tes kepribadian yang saya ambil dari Mba Fransisca Grace Dei Naibaho (Gogirl! Apprentice)
Termasuk kepribadian manakah kalian. Monggo...

(What you have to do is only choose “T” if you agree about the statement or you can choose
“F” if you disagree with the statement)
 
.       Saya lebih suka bercerita mengenai kehidupan saya dibanding mendengarkan teman saya bercerita (T/F)
. Saya kurang nyaman jika pergi ke toko buku seorang diri (T/F)
. Saya sangat suka bertemu orang baru (T/F)
. Bagi saya olahraga yoga adalah olahraga yang membosankan (T/F)
. Saya lebih senang mengerjakan tugas secara berkelompok daripada mengerjakan tugas secara individu   (T/F)
. Saya suka sekali jika orang sekeliling saya memperhatikan apa yang saya bicarakan (T/F)
. Saya lebih baik menonton live concert
  daripada menonton bioskop (T/F)
. Saya suka memulai pembicaraan terlebih dahulu (T/F)
. Saya tidak pernah merencanakan sesuatu jauh hari sebelumnya (T/F)
. Saya mudah bosan akan suatu hal (T/F)


Kalo jawaban kamu lebih banyak yang “T”, it means you are an EXTROVERT! Sebaliknya, kalo jawaban kamu lebih banyak yang “F”, kamu adalah seorang INTROVERT. Tapi gimana kalau jawaban kamu berimbang? It means you are an AMBIVERT!

1. Introvert
 
      Kalau saya sederhanakan, pengertian Introvert menurut C.G Jung adalah sikap atau karakter seseorang yang mengandalkan intuisi atau perasaan dalam menjalani kehidupannya.
Sesorang yang Introvert cenderung lebih suka sendiri dan menyendiri. Mereka memiliki pribadi yang tertutup. Senang melakukan kegiatan sendiri daripada berkelompok karena mereka banyak menghabiskan Me Timenya.

Mungkin, kalau ditanya kegiatan apa yang paling melelahkan untuk Introvert, mereka pasti serentak menjawab, bersosialisasi. Kegiatan yang mereka sukai contohnya adalah membaca, menulis, kegiatan yang berhubungan dengan seni, komputer atau kegiatan yang bisa dilakukan sendiri.

Mereka sangat menyukai ketenangan dan kesunyian, kurang menyukai keramaian. Intuisi mereka biasanya kuat. Orang yang Introvert bisa terlihat dari penampakan luarnya. Biasanya mereka terlihat kalem, tenang, cool dan misterius. Tetapi jika kalian sudah mengenal lebih dalam tentang mereka, dan hanya orang yang dekat dan dipercaya karena mereka saja yang tahu itu. Pasti kalian akan terkaget kalau mereka juga bisa diajak gila-gilaan bareng.

Mereka akan berpikir lebih dahulu sebelum berbicara dan tipe pendengar yang baik. Biasanya mereka yang Introvert itu suka dengan hujan atau aroma tanah saat bersentuhan dengan hujan.

Beruntung bagi kalian jika mempunyai teman atau sahabat yang Introvert karena jika mereka sudah banyak cerita ke kalian, berarti mereka sudah sangat percaya sama kalian. Karena mereka cenderung tipe orang yang tidak mudah percaya sama orang lain. Jadi teman mereka sedikit. Tetapi kesetian mereka jangan ditanya. Dan mereka understanding banget dengan sahabatnya.


2. Ekstrovert

Untuk orang-orang Extrovert itu adalah kebalikan dari tipe introvert.
Mereka tidak suka menyendiri. Mereka lebih suka kegiatan di luar ruangan, mereka sangat menyukai aktifitas sosial dan senang bergaul. Jika seorang Introvert lebih suka menyendiri, lain halnya dengan Extrovert, mereka sangat menjauhkan hal-hal seperti itu karena kegiatan seperti itu akan membuat mereka bosan.

Si Ekstrovert itu gaul banget deh. Punya banyak teman dan suka ngomong atau ngobrol. Ramelah pokoknya. Ekstrovert itu paling nggak betah di rumah. Biasanya mereka tukang jalan dan hang out bareng teman-temannya yang segambreng. Hehe

3. Ambivert

Dan sekarang saya sudah masuk tipe kepribadian yang terakhir, Ambivert. Ambivert itu berada di tengah-tengah Introvert dan Ekstrovert. Jadi tipe kepribadian ini sometimes bisa menjadi Introvert, kadang juga menjadi Ekstrovert. Dan menurut penelitian, setengah manusia di bumi ini memiliki tipe kepribadian ini.

Seorang Ambivert itu bisa menjadi orang yang rame pada saat kumpul dengan teman-temannya. Mereka juga punya banyak teman tetapi hanya sedikit yang dijadikan teman dekat atau sahabat. Tetapi pada saat mereka sudah merasa lelah, mereka pasti akan pergi menyendiri, Me Timean lah istilah kekiniannya. Karena itu merupakan salah satu cara untuk merecharge energinya kembali. Karena bersosialisasi juga membutuhkan energi yang banyak. Si Ambivert bisa dibilang Moodyan juga karena seperti itu.

Segitu aja yang bisa saya tulis tentang Personality. Semoga dengan mengetahui Kepribadian Manusia yang unik dan beragam ini, kita jadi bisa lebih mengerti orang lain, lebih terasah lagi Sense of Humanitynya. Terimakasih.